Sebiru biru

Sunday, August 31, 2008

Dari kejauhan terlihat dua pedati mendekati tempat dimana aku berdiri suara khas pedati gerobak sapi yang gedubrakan ditambah lonceng sapi terasa sangat murni mengatakan bahwa ini adalah desa. Ibu-ibu menarik bambu muda sepanjang 20-50 meter dan orang tua itu tetap setia dengan cangkulnya menuju sawah. Beberapa ayam berkeliaran dan mengais-ngais tanah mencari makan sedangkan sang jago berkokok pertanda ini adalah wilayahku. Segerombolan kambing mengembek-embek. Begitupula dengan aneka kicaun burung yang bersaut-sautan membuat pagi kian semangat dihangatnya matahari dalam naungan langit biru berhiaskan awan tipis. Kini aku masih berdiri berselimut sarung, perlahan kubuka sarung ini yang telah melindungiku dari dinginnya pagi dalam pelukan kabut suci. Kuhirup dalam-dalam udara pagi yang murni terasa sejuk menyegarkan, kuhela pelan-pelan dan aku sadar bahwa ini hanyalah ingatan tentang dahulu.

Kembali aku mengingat memori itu yang membuat ku ingin merasakan nuansa pagi dengan ramahnya lingkungan desa yang ramah menentramkan. Tapi aku tak bisa mengalami tiu semua karena sekarang aku hidup di kota metropolitan yang semua orang tahu tentang jakarta yang bising, pulusi, sampah. Seperti itukah Jakarta. Sepertinya suasana itu lebih dirasakan oleh mereka orang-orang yang terpinggirkan dan ekonomi lemah. Sudah biasa dan menjadi kebiasaan jika orang miskin bergemul dengan lingkungan yang tidak bersih dan berhadapan langsung dengan polusi, Tak seperti mereka yang mampu memfasilitasi diri dengan kebersihan guna kesehatan dan mereka dapat menentukan pilihan untuk merasakan kenyamana dimana mereka berada.

Kaum kecil harus berdesak-desakan dalam mencapai tujuan dengan alat transportasi yang memang tidak nyaman, saat keluar dari angkutan umum langsung dihadapkan dengan udara panas dan polusi yang siap menyambut, belum lagi pemandangan sampah, sepertinya orang kecil tidak boleh membuat pilihan tetapi harus mengambil pilihan. Semoga pilihan kita tidak pernah salah, Pilih lah langit biru sebagai atap hidup kita untuk saat ini. Wariskan langit biru kepada anak cucu sebagai kebanggan hidup.

0 komentar to “Sebiru biru”