Berhenti Bernafas

Sunday, August 31, 2008

Jumat pukul 23:15 ada suara yang datangnya dari garasi terdengar salam yang memburu penguhini rumah. Aku terbangun dari tidurku yang belum terhampiri mimpi, kucari kunci pintu dengan langkah sempoyongan dan terseret tembok, menuju pintu dengan tatapan mata remang karena lampu memang sengaja dimatikan. Kubuka pintu dan nampak seorang setengah baya, berbaju hitam dengan kulit gelap. segera kusapa dan ku jawab salam darinya, dan bertanya siapa dan apa tujuannya. Innalilahi wainailaihi rajiun, kabar buruk yang kudapatkan dari orang yang tidak kukenal ini. Famili dari Ibuku ada yang meninggal.

Herry Haryono adalah lelaki yang dimaksud usianya sekitar 29 tahun, meninggal karena penyakit di sekitar kepala yang diidapnya. Sempat menginap di rumah sakit AL Benhil selama kurang lebih satu minggu. Kemampuan Dokter sudah dikerahkan tetapi apalah daya semua tergantung yang Mahakuasa. Herry Haryono meniggalkan istri dan seorang anak. Malam itu juga kami sekeluarga menuju rumah orang tua Herry yang masih satu kampung. Suasana sudah ramai, bangku-bangku telah tertata. Kulihat orang Herry yang begitu tabah menerima kepergian putranya.

Keanehan pada zaman sekarang begitu kurasakan tidak duka yang mendalam, tidak rasa kehilangan yang teramat sangat. Bahkan diantara mereka yang melayat masih terdengar gelak tawa. Apakah ini kesedihan di zaman sekarang. Setahuku pada saat duka karena ada yang meninggal suasana begitu hening dan terdengar surat Yasin yang dibacakan pelayat, atau kalimat Lailahailallah.” Rencanannya Harry Haryono akan dikebumikan setelah sholat Jumat.

0 komentar to “Berhenti Bernafas”